Rachmat Anggara, Pendiri Qasir Yang Ingin Majukan UMKM Indonesia

Senin, 12 Feb 2018 | 11:10:07 wib

Yulistyo Pratomo
penulis : Yulistyo Pratomo | yulistyo@ayooberita.com

 

Rachmat Anggara, Pendiri Qasir Yang Ingin Majukan UMKM Indonesia

Co-Founder Qasir, Rachmat Anggara. (Ayooberita.com/Yulistyo Pratomo)


Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) kini mengalami pertumbuhan yang sangat pesat, bahkan turut menyumbang pendapatan per kapita paling besar di Indonesia. Sayangnya, tidak semua mampu bertahan di tengah gencarnya industri ritel modern.

Lalu apa sih yang salah?

Setelah melakukan identifikasi, Rachmat Anggara menemukan beberapa persoalan utama yang menjadi kendala para pemilik UMKM tersebut, salah satunya adalah tidak adanya pencatatan terhadap inventori barang yang dijual.

"Karena mereka sendiri itu enggak bisa, waktunya habis bukan buat jualan tapi buat nyatet laporan keuangannya stoknya," ungkap Angga, sapaan Rachmat Anggara, saat berbincang dengan Ayooberita.com, belum lama ini.

Atas alasan itu, Rachmat turut mengembangkan aplikasi startup bernama Qasir bersama rekan-rekannya. Agar bisa dikenal oleh para pemilik UMKM, dia mulai melakukan sosialisasi mulai dari warung terdekat hingga menggandeng pemerintahan.

 

 

Berikut wawancara eksklusif Ayooberita.com dengan Angga yang merupakan Co-Founder Qasir:

Boleh dijelaskan, apa sih fungsi dan kegunaan Qasir ini sendiri?

Jadi Qasir sendiri kita melihat UMKM di Indonesia, UMKM di Indonesia sebenarnya yang ngasih pendapatan per kapita paling gede di Indonesia ini, cuma kita lihat mereka banyak turun jumlahnya karena banyak modern market buka, setiap mereka buka setiap radius beberapa meter mereka itu tutup. Nah akhirnya kita lihat salah satu yang buat UMKMN kalah itu dari teknologi, terutama di pencatatan, karena mereka sendiri itu enggak bisa, waktunya habis bukan buat jualan tapi buat nyatet laporan keuangannya stoknya, ya itu makanya kita buat aplikasi namanya Qasir.

Pengalaman itu datang dari mana? Saudara sendiri atau teman?

Iya saudara, awalnya kita lihat temen deket, kerabat, 'oh kayak gini nih', walau waktu itu belum full ya, walaupun kita bantu-bantuin orang ada membuat sistem sekali buat minimal Rp 15 juta, itu kan kalau UMKM suruh buat gitu kan berat banget. Momennya pas banget kita lihat semua orang udah hampir mayoritas orang punya smartphone, jadi kita semua punya ide, bikin aja aplikasi di aplikasi smartphone, orang tinggal download langsung bisa ngelakuin transaksi, jadi kayak mesin kasirnya gitu.

Bagaimana cara kerjanya?

Ya jadi sederhana aja sih, yang dibutuhin UMKM itu ternyata mereka bisa foto produknya, stoknya tinggal berapa, modalnya berapa, dia jualnya berapa. Nah itu terus nanti di rekap setiap hari, setiap orang dateng mau beli tinggal dipencet-pencet, mau beli berapa, dua. Tinggal dia lihat 'stoknya tinggal satu nih', gitu.

Apakah ini juga sejenis fintech yang sedang booming saat ini?

Bukan (fintech). Kalau ecommerce lebih pada menjual. Kalau mereka, ini internalnya mereka. Mesin kasir internalnya sama mereka.

Lalu bagaimana upayanya membesarkan Qasir ini sendiri?

Upayanya di awal 2015 pertama kali boothstrap dulu, boothstrap terus kita project-project dulu jadi buat gajian karyawan, ambil-ambil project. Kita ambil project di Malaysia, kita cari partner buat bisa bantuin kita, angel-angel investor dulu, setelah itu baru tuh udah ada traction udah rada gede baru kita dapatkan investment yang lebih besar lagi, gitu.

 

 

Qasir ini sudah berdiri sejak kapan?

Berdiri kalau company-nya 2015, cuma kita belum bisa bangun produk waktu itu.

Kalau kemarin kan kita project, jadinya kita buatin produk buat orang kan, terus setelah itu kita cuma buat fokus ke buat aplikasi Qasir ini kita sudah dari dulu, jadi dulu sambil bikin kerjain project. Ini cicil-cicil tapi akhirnya enggak selesai-selesai kan sampai kita dapet ada orang yang bisa bantuin investment jadi kita bisa kerjain ini doang, jadi sekarang kita totalitas kerjain ini. 

Nah planning ke depan, kita mau bikin ecommerce jadi misalnya taruh deh sudah ada 1 juta pedagang yang pakai Qasir, itu kan barang-barang produknya mereka ada semua di situ. Kita mau bikin ecommerce buat consumer, jadi consumer misalnya mau beli Aqua, itu yang nganterin Aqua dari deket sini, pake qasir. Jadi enggak perlu dari jauh, Aqua gini-gini. Rencana ke depannya kayak gitu.

Kita lebih mengedukasi UMKM, setahu mereka kalau nyatet transaksi itu penting banget. Mereka boro-boro nyatet kadang-kadang ada yang enggak nyatet.

Sekarang ini sudah berapa yang mengunggah aplikasi Qasir itu sendiri?

Sekarang sudah 4.500-an lah, itu nyebar sih, paling banyak toko kelontong, habis itu restoran yang kecil, terus yang ketiga butik, fashion nah itu tersebar seluruh indonesia sih. Sampai kemarin kita lihat di Papua juga ada yang make, sampai sekarang kita belum promosi kita baru lewat Facebook atau Instagram lah sederhana itu. Sampai sekarang juga belum gede-gede, kita launching juga belum, jadi masih manual dulu lah.

Omzet sampai sekarang belum gede, Ada tapi sekali doang cuma biaya integrasi ke klien doang, itu bukan untuk sustainability perusahaan ini, nantinya sih rencana kita ada, kita ada koneksi sama distributor nanti setiap merchant order ke distributor itu mereka, kita kenakan fee di situ cuma belum berjalan.

Kalau aplikasinya sendiri masih gratis, (layanannya) masih gratis.

Kalau masih gratis, lalu bagaimana mencari keuntungannya?

(Mencari keuntungan melalui) distributor sama ngelakuin pinjaman modal. Tapi itu biasanya kita perbandingan ke corporate-nya, tetep enggak ke usernya, UMKM-nya enggak kebebanin.

 

 

Kita kerja sama sama Pemprov DKI, jadi kemarin kita udah signing MoU sama Dinas UMKM Pemprov DKI itu kita nanti, start besok mulai sosialisasi, kemarin sih sudah sosialisasi ke semua wilayah cuma besok kita mau fokus di blok S sini mas, di pujasera jadi nanti harapannya semua pujasera udah kayak di Singapura gitu semuanya pakai tab, nanti lama-lama semua orang bisa transaksi pakai kartu JakCard kita harapannya di Pemda bisa sampai gitu, orang mau naik busway, mau bayar bisa pakai itu di konternya yang binaan pemprov DKI.

Suka dukanya membangun Qasir sendiri seperti apa?

Kita sudah mulai bertahap dulu sih, sosialisasi. Suka duka banyak kalau dari internal, cuma  tantangan paling berat edukasi pedagang itu, jadi banyak pedagang yang ngerasa hidupnya sudah nyaman ngapain saya butuh alat kayak gini, padahal mereka enggak terasa lama-lama mereka tergerus, jadi lama-lama makin habis pedagang-pedagang ini, itu paling susah sih edukasi itu, cuma ke sini orang banyak ngelihat contoh dari ojek, tadinya tukang ojek boro-boro mau pake handphone, sekarang malah sudah bisa ngehack aplikasinya malah.

Jadi dari situ sih, kadang-kadang success story-nya dari startup-startup yang sudah bagus kita buat pedagang-pedagang itu jangan sampai mereka kalah sama orang yang mau maju di teknologi itu.

Pasti kan banyak orang yang mula-mula menolak aplikasi seperti ini, nah pendekatan seperti apalagi sih yang dilakukan agar lebih banyak UMKM yang mau pakai Qasir?

Cara kita salah satunya masuk ke komunitas, kita lihat orang di komunitas itu lebih, orang masuk komunitas karena usahanya ingin maju, kalo ujuk-ujuk dateng ke toko, 'pak pakai Qasir ya soalnya untuk nyatet ini itu', 'ngapain saya sudah nyaman, biasanya orang masuk komunitas itu gimana ya supaya dagangan saya lebih baik, gimana supaya jualan saya lebih berkualitas.

Nah itulah kenapa kita masuk ke komunitas terus kita presume itu antusiasnya bisa lebih banyak, yang di daerah lebih banyak lagi antusiasnya untuk teknologi, tapi untuk di Jakarta lebih banyak distraction sama tiba-tiba orang nawarin apa, nawarin apa. Kalau orang di luar Jabodetabek itu orang open banget, 'mau dong dicobain' apalagi aplikasi gratis, yang lain kan banyak berbayar.

(TYO)