Laja Lapian, Mantan Karyawan Bank Beralih Jadi Pengusaha HR & Logistik

Selasa, 19 Des 2017 | 10:38:26 wib

Yulistyo Pratomo
penulis : Yulistyo Pratomo | yulistyo@ayooberita.com

 

Laja Lapian, Mantan Karyawan Bank Beralih Jadi Pengusaha HR & Logistik

Laja Lapian. (Ayooberita/Yulistyo Pratomo)


Menjadi seorang pengusaha ternyata tidak semudah membalikkan tangan. Butuh komitmen besar dan kemauan yang keras, sebab memulai membangun sebuah usaha sudah berarti menjual seluruh waktu senggangnya hanya untuk pekerjaan.

Laja Putra Nusmo Lapian, kini memimpin dua perusahaan, antara lain PT Multinasional Sinergi Indonesia yang bergerak di bidang sumber daya manusia atau human resource, serta sebuah perusahaan logistik yang diberi nama PT Ampat Yasa Intermoda alias Forway Logistics.

Jauh sebelum menjadi seorang pengusaha, Lada memulai karier sebagai pegawai sebuah bank pada tahun 1994 dan sempat bergabung dengan perusahaan perbankan pelat merah. Di perusahaan itu dia ditempatkan dalam divisi human resource (HR) selama empat tahun sebelum memutuskan membangun usaha sendiri bersama reman-temannya pada 2006, hingga berhasil mendirikan Sinergi mulai 2010.

"Sekarang itu kita tangani banyak projek di manage service-kan satu paket dalam tendernya," ungkap Laja saat berbincang dengan Ayooberita.com di kantornya, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pekan lalu.

Perusahaan Sinergi yang dia bangun lebih banyak bergerak di bidang telekomunikasi, di mana Laja wajib menyediakan tenaga kerja yang sudah memiliki skill lengkap dengan peralatan pendukung. Proyek yang pernah dikerjakan antara lain pembangunan dan perawatan base transceiver station (BTS).

Empat tahun berikutnya, bersama seorang kolega sekaligus seniornya yang sama-sama tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Laja mendirikan perusahaan kedua di bidang logistik. Kedua bidang itu memiliki tantangan yang beragam dan berbeda-beda.

Menjadi seorang pengusaha membutuhkan kesabaran tiada batas, apalagi tidak mudah mencari seorang klien untuk menggunakan jasanya sebagai penyedia tenaga kerja. Secara perlahan, Laja akhirnya mendapatkan klien. Kesulitan lain yang dialami sebagai pengusaha pemula juga datang dari permodalan hingga kewajiban membayar pajak.

"Jadi invoice kita baru nagih pertama, kita sudah harus bayar PPN 10 persen dan bayar pajak-pajak segala macem. Di beberapa negara yang saya tahu itu pengusaha-pengusaha muda diberikan insentif untuk pajak lebih kecil atau dia tidak bayar pajak dulu, di Korea dan China sudah diberi seperti itu untuk pengusaha-pengusaha, kalau kita sampai sekarang belum," keluhnya.

Setelah memutuskan menjadi seorang pengusaha, dia menyadari pandangan yang terjadi di masyarakat selama ini tidak sesuai dengan kenyataan. Salah satunya persoalan waktu.

"Banyak orang yang dari karyawan jadi pengusaha biar waktunya lebih bebas, padahal sebenarnya enggak. Tidak ada waktu bebas pada saat kita jadi pengusaha," ungkapnya.

Menjadi pengusaha, maka orang tersebut telah menggadaikan sebagian besar waktunya kepada pekerjaan. Bahkan, bekerja selama 24 jam selama tujuh hari penuh, termasuk ketika pergi berlibur bersama keluarga sekalipun.

"Justru di waktu kita jadi pengusaha kita harus benar-benar displin soal waktu, harus bisa benar-benar membagi waktu. Karena once terjun ke dunia usaha tidak ada lagi waktu pribadi, waktu pribadi kita pasti bercampur dengan waktunya perusahaan," lanjut Laja.

"Ya karena dari awal sudah tahu bahwa tanggung jawab terhadap perusahaan ini juga adalah tanggung jawab kita sebagai pribadi dan kita sebagai pengusaha, ya kita harus terima konsekuensi itu bahwa dalam weekend atau liburan kita diganggu sama urusan pekerjaan itu sudah biasa, karena enggak mungkin enggak mengganggu karena pemutus kepentingannya kita, kebijakannya kita sendiri, itu sudah jadi konsekuensi kita sebagai pengusaha." (TYO)