Himki Tolak Ekspor Kayu Log & Bahan Baku Rotan

Selasa, 13 Mar 2018 | 15:12:29 wib

Endy Purwanto
penulis : Endy Purwanto | endy@ayooberita.com

 

Himki Tolak Ekspor Kayu Log & Bahan Baku Rotan

industri mebel


Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Himki) menolak wacana pembukaan keran ekspor kayu gelondongan (log) dan bahan baku rotan. Jika hal ini dibiarkan, bahan baku kayu dan rotan Indonesia bisa habis tanpa bisa dinikmati oleh para pelaku industri furnitur dan kerajinan lokal.

Justru pihak paling diuntungkan dari ekpor bahan baku ini adalah pelaku industri di luar negeri, yang bisa mendapatkan bahan mentah dengan harga murah lalu menjualnya dengan harga tinggi, ungkap Sekretaris Jenderal HIMKI, Abdul Sobur, seperti dilansir laman Swa.co.id, Selasa (13/3).

Dilanjutkan, industri furnitur dan kerajinan Indonesia masih tahap recovery (pemulihan). Adanya wacana ekspor bahan mentah ini bisa membuat industri makin berantakan. Karena itu secara tegas Himki menolak dengan tegas wacana untuk membuka kembali ekspor log dan bahan baku rotan.

Kelangkaan bahan baku di industri furnitur dan kerajinan pernah terjadi karena kebijakan ekspor di masa lalu. Akibatnya, para pengusaha industri rotan di Jepara, Banten, Lampung, Palembang, sentra industri rotan di Surabaya, dan beberapa sentra industri mebel lain kesulitan memperoleh bahan baku. Bahkan kebijakan tersebut telah menghapus Trangsan, Sukoharjo, Jawa Tengah, dari peta sentra industri mebel dan kerajinan rotan nasional.

Kebijakan pembukaan keran ekspor log dan bahan baku rotan, menurut Sobur, hanya akan menguntungkan negara-negara importir yang telah lama menunggu kebijakan itu untuk memenuhi pasokan bahan baku industri mereka. Hal inilah yang membuat Tiongkok dan Vietnam mampu tampil lebih dominan dan bisa menjual produk barang jadi rotan dengan harga yang lebih murah, karena juga mendapatkan bahan mentah tersebut dari Indonesia dengan harga murah.

Himki tetap mendukung kebijakan pemerintah terkait larangan ekspor bahan baku berupa log, kayu gergajian, rotan mentah atau asalan, rotan poles, hati rotan serta kulit rotan sesuai dengan Permendag No. 44 Tahun 2012 demi menjamin pasokan bahan baku bagi industri barang jadi di dalam negeri.

Selain itu, Himki mendukung kebijakan pemerintah dalam peningkatan nilai tambah produk di dalam negeri, yaitu dengan mengolah bahan baku menjadi barang jadi sesuai UU No. 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian.“Produk-produk yang memiliki added-value justru lebih bernilai tinggi. Oleh karena itu, kami juga terus mendorong anggota untuk memproduksi produk-produk dengan nilai tambah yang tinggi,” ujar  Sobur.

Himki minta pemerintah tidak menindaklanjuti dan menghapus wacana ekspor bahan baku log dan rotan karena bisa menggerus permintaan ekspor mebel dan kerajinan dan merusak iklim industri dalam negeri. Potensi pindahnya permintaan produk mebel dan kerajinan ke negara lain mulai terlihat sejak wacana digulirkan kembali dan menimbulkan sentimen negatif pada industri mebel dan kerajinan Indonesia.

Negara sasaran ekspor produk furnitur dan kerajinan Indonesia mulai meragukan stabilitas produksi mebel dan kerajinan domestik, sehingga memikirkan untuk beralih ke negara kompetitor. “Kami harap bisa konsisten mendorong ekspor produk barang jadi kayu dan rotan serta melarang ekspor kayu dan rotan dalam bentuk bahan baku untuk meredam keresahan para pelaku usaha yang bergerak di bidang barang jadi. Jika terjadi ekspor log, kita seperti kembali ke zaman VOC” ungkapnya. (SWA/END)

Tags:

Himki