Dito Ariotedjo, Pengurus Teras Partai Golkar Termuda

Jumat, 02 Mar 2018 | 09:43:43 wib

Yulistyo Pratomo
penulis : Yulistyo Pratomo | yulistyo@ayooberita.com

 

Dito Ariotedjo, Pengurus Teras Partai Golkar Termuda

Dito berpidato saat memenuhi undangan dari Kostrad. (Instagram/Dito Ariotedjo)


Ditahan dan dijeratnya Setya Novanto dalam kasus dugaan korupsi Kartu Tanda Penduduk (KTP) Elektronik memberikan perubahan besar di dalam tubuh Partai Golongan Karya (Golkar). Salah satunya masuknya anak-anak muda sebagai pengurus partai tingkat nasional.

Nama yang dimaksud adalah Dito Ariotedjo, pemuda berusia 28 tahun ini diangkat sebagai Ketua DPP Partai Golkar di bidang inovasi sosial dan ormas. Baginya, hal itu merupakan sebuah prestasi, bahkan belum pernah terjadi sepanjang terbentuknya partai berlambang beringin itu.

Masuknya Dito ke Golkar ini tak lepas masa-masa kuliah dan terlibat dalam organisasi kemahasiswaan. Di sana, dia bisa mendapatkan tambahan teman, menambah jaringan dan lain-lain.

Diberi kepercayaan untuk menjabat sebagai ketua DPP sempat membuat dia merasa ragu akan kemampuannya. Akan tetapi, perlahan namun pasti, dia berhasil membangun kepercayaan diri dan berusaha sebaik mungkin agar bisa membayarnya.

Nah, Ayooberita.com mendapatkan kesempatan untuk melakukan wawancara khusus terhadap pria yang juga berprofesi sebagai pengusaha ini. Berikut laporan yang disampaikan oleh jurnalis Ayooberita.com, Yulistyo Pratomo:

Dari pengusaha terus masuk ke ranah politik, kenapa memutuskan begitu?

Dari kuliah itu sudah giat di kepemudaan dan aktivis kampus lah, memang passion, jiwanya itu. Jadi selama ini juga menjalani usaha semata-mata dalam rangka kemandirian ekonomi. Memang passion aslinya di organisasi yang lebih berafiliasi pada politik lah, khususnya Golkar

Kenapa lebih tertarik berkecipung di organisasi?

Intinya saya senang berkawan, nambah teman dan senang mencoba hal-hal baru dan menambah jaringan baru. Kenapa ujungnya politik, sebenarnya ini mungkin lebih ke arah ikut arus dan alam yang membuat saya ke sini.

Kemandirian dalam bidang usaha itu sendiri seperti apa maksudnya?

Kalau misalnya berusaha sendiri, dalam arti berwirausaha kita tidak terikat dengan hal-hal bersifat mengikat, jadi kita lebih fleksibel, kita tidak tergntung kepada bos, jadi lebih ke situnya maksudnya sih.

Lalu bagaimana anda membagi waktu antara berbisnis dengan aktivitas politik?

Sementara saya masih belajar sebenarnya, masih agak berantakan sebenarnya. Tetapi sekarang saya telah mewakafkan diri saya lebih ke sosiopolitik sih, jadi memang bisnis saya sudah berjalan, ada tim yang menjalani ya, jadi kita bisa lebih bebas.

Waktu mulai berwiraswasta anda merambah ke bidang apa?

Awal banget sama kakak saya bikin perusahaan trading, tapi memang keluarga besar sudah punya perusahaan, jadi sekarang bentuknya lebih suporting company jadi lebih menjalankan yang sudah ada.

Suka dukanya selama membangun bisnis itu bagaimana?

Suka dukanya membangun sendiri masalah built integritasnya itu ya, untuk meyakinkan orang gimana, masuk ke network-network baru yang kita temukan. Dunia politik tantangannya itu ombaknya berbeda dengan bisnis, dinamisnya sangat tinggi. Kalau di politik saya mengaplikasikan nilai-nilai profesional di bisnis. Kalau di politik itu kan saya selalu berusaha profesional, selalu melahirkan karya, kerjanya apa, sisanya iklas aja sih.

Jika memang harus memilih, jatuhnya lebih berat mana antara kedua bidang itu?

Sama, dua-duanya menurut saya sama, karakternya aja yang berbeda. Tetapi point-point nilai fundamentalnya sama.

Persaingan dunia politik kan jauh lebih berat, ada kubuan dan gontok-gontokan. Nah, anda punya strategis khusus enggak untuk menghadapinya?

Intinya kalau saya khususnya, bagi saya dengan jabatan itu hanyalah jubah, inti dalam kehidupan ini adalah kemanusiaan. Nah, jadi apapun jabatan kita, posisi kita, saya selalu mencoba hal yang sama, berbuat baik kepada setiap orang, jadi itu memperkecil potensi konflik atau dislike ke orang, karena faktor like di politik ini sangat menentukan posisi kita ada di mana. Intinya sih saya selalu mencoba menebarkan kebajikan dan kebaikan.

Kenapa memilih Golkar sebagai partai politik, lalu bagaimana menghadapi senior-senior anda yang sudah lama berkecipung di partai tersebut?

Kenapa saya milih Golkar, mungkin secara ideologi partai itu adalah kekaryaan, apa yang selalu saya percayai bahwa dengan karya kita bisa membangun sebuah bangsa, garis besarnya di situ. Dan selain itu kenapa Golkar, karena Golkar itu merupakan partai yang sistemnya sudah proven dan matang, di golkar itu bukan lagi dinasti walaupun di dalam ada faksi dan dinastinya, walaupun Golkar membuka kesempatan orang bekarya di partai itu semuanya imbang. Siapapun yang mau bersaing di Golkar itu ketika punya bargaining, punya karya jadi bisa capai posisi tingginya, jadi aktivis pengusaha atau bekas birokrat itu semua punya kesempatan yang sama.

Ini mungkin pertama kalinya Golkar memiliki ketua DPP berusia di bawah 30 tahun, saya rasa ini baru pertama kali, akan tetapi senior juga sebelum jadi ketua DPP saya sudah pernah jadi Ketua Umum AMPI, ormas pemuda Golkar, dari situ senior sudah lihat pergerakan dan kontribusi seperti apa jadi ketika ketua umum Airlangga itu mengeluarkan keputusan yang agak kontroversi yaitu menaikkan posisi saya menjadi Ketua DPP Golkar. Senior paham dan senior bisa menerima, alhamdulillah tidak ada resistance, memang jabatan ini Golkar harus mempercepat regenerasinya dan partai Golkar ke depannya harus ramah dengan anak muda, jadi tidak semata-mata gimmick mendukung, dukung tapi memang sudah bukti memberikan kesempatan dan wadahnya.

Sempat merasa ragu enggak saat terpilih sebagai ketua DPP?

Ada sih, karena ini baru pertama kali dan ketika kita diarahkan, kita kan hanya membahas gimana caranya menaikkan nilai kehidupan dan taraf kehidupan anak-anak muda, empowerment, sebagai ketua Golkar otomatis tanggung jawab kita berlebih, jadi kepentingan elektoral. Jadi ini lebih serius dan tantangan dan KPI lebih tinggi dan ini adalah anugrah sekaligus cobaan, karena ketika saya gagal dan tidak proven di ketua DPP Golkar, ini otomatis. Saya relatif masih muda dan karier saya bisa mandeg. Jadi akan saya manfaatkan sebaik-baiknya.

Tantangan dua tahun di tahun politik, ada target yang mau dicapai di tahun politik?

Kalau sekarang lebih politik ya kalau bisnis sudah as it is, dan semoga bisnisnya selalu bertahan dan menghasilkan. Kalau target politik emmpertahankan yang sudah ada dan berupaya semaksimal mungkin, sekarang sudah tidak ada target apa-apa karena ini sekarang sudah melebihi target soalnya, kecuali kita digunting. Rumput kan kalau tumbuhnya sendiri ke atas digunting kan. (TYO)