Basuki Surodjo, Juragan IT Yang Tak Ingin Berhenti Belajar

Jumat, 26 Jan 2018 | 09:37:12 wib

Yulistyo Pratomo
penulis : Yulistyo Pratomo | yulistyo@ayooberita.com

 

Basuki Surodjo, Juragan IT Yang Tak Ingin Berhenti Belajar

CEO PT Air Mas Perkasa, Basuki Surodjo. (Ayooberita/Yulistyo Pratomo)


Menjadi pebisnis tidak boleh berhenti mencari peluang baru. Apapun usaha yang dilakukan, seluruhnya perlu kerja keras dan terus berusaha.

Itulah yang dilakukan Basuki Surodjo, pendiri sekaligus direktur utama PT Air Mas Perkasa. Sejak masih kuliah, dia sudah memulai bisnis sendiri, meski masih kecil-kecilan seperti membuka warung internet (warnet) hingga refleksi kaki.

Usai menamatkan masa sekolahnya, Basuki sudah memiliki passion besar di bidang bisnis. Tidak pernah sekalipun dia melirik untuk menjadi pegawai, profesional atau bekerja dengan orang lain, hanya bisnis, bisnis dan bisnis.

Dari usaha warnet, kini dia telah berhasil membangun sebuah perusahaan besar dan bergerak di bidang IT. Lewat perusahaan ini pula dia telah mempekerjakan ratusan orang karyawan yang tersebar di beberapa provinsi se-Indonesia.

Di samping menjadi seorang pengusaha, Basuki tetap tidak melupakan pentingnya belajar. Saban hari dia melahap beberapa buku di sela-sela kesibukannya, terutama menjelang tidur.

Basuki dengan patung robot sebagai ikon Ayooklik.com

Nah, seperti apa kisahnya? Berikut wawancara Ayooberita.com dengan Basuki Surodjo, pekan lalu:

Bagaimana mulanya anda mulai berbisnis?

Jadi awalnya dari dulu enggak pernah kerja sama orang, dari awalnya memang passion-nya di bisnis. Dari 2001 saya buka warnet. Terus 2003, saya waktu itu masih kuliah juga buka refleksi kaki, refleksi kaki punya sendiri. Terus habis warnet kita juga buka tempat billiard. waktu itu fokusnya cuma di usaha-usaha seperti itu.

Passionnya memang di situ, meski orangtua saya profesional. Memang sempat kerja sama orangtua saya satu tahun sebagai staf notaris, tapi setahun doang habis itu stres kita, depresi, gagal, kemudian bisnis lagi. Sempet bantuin orangtua satu tahun tapi bisnis tetap jalan, paralel terus karena kita jiwanya enggak di profesional, kita balik lagi ke bisnis.

Dari warnet lalu hingga berhasil membangun Ayooklik, itu bagaimana prosesnya?

November 2007, ada temen saya menawarkan saya untuk bermain ATK (alat tulis kantor). Awalnya saya tolak, dia dateng lagi nawarin saya, 'mau enggak nih ada pekerjaan ATK Rp 20 juta.' Waktu itu saya merasal 'wah kita coba lah,' akhirnya kita terima pekerjaan di Kominfo. Pertama kali november 2007, penunjukkan langsung senilai Rp 20 jutaan.

Lalu berkembang, ada warnet lantai atasnya 4 x 3. Waktu itu Januari kita coba, waktu Januari kita coba ikut tender-tender, Januari-Februari tapi beberapa kali gagal dan pertama kali menang tahun 2008 senilai Rp 280 juta, itu tender ATK di Bappenas. Itu pertama kali saya menang tender pemerintah.

Waktu seperti apa kerja kerasnya sampai bisa menang tender di pemerintah?

Saya waktu itu belum ada usaha ATK, carinya dari pasar pagi. Cari sana minta harga, ikutin tender, menang baru kita beli. Waktu itu belum punya stok, belum punya gudang cuma ikut trading aja, warnetnya masih.

Pendekatannya sendiri apakah ada hingga akhirnya bisa menang lelang?

Enggak ada (pedekatan), kan biasanya ada pengumuman lelang di koran, ya kita ikut. Administrasi, masuk, penawaran. Enggak ada (penolakan) waktu itu kan manual, waktu itu kan manual lebih susah karena banyak pemain, banyak pemain beneran ada yang penyedia abal-abal juga banyak, tapi pengalaman ya begitu.

Basuki bersama sejumlah pengurus BPC Hipmi Jakarta Barat

Tapi yakin banget waktu itu bisa menang?

Ya namanya kita coba maju terus, yakin enggak yakin ikut aja, setelah menang ya itu. Kita sudah coba beberapa kali menang ya udah. Kemudian November 2009 jadi partner HP, itu pertama kali saya berpartner dengan HPs, setelah itu terus berjalan.

Terus kenapa akhirnya lari ke dunia IT?

Karena ATK pasti kan jualannya tinta toner, tinta toner ini kan berhubungan dengan printer, jadi jatuhnya ke IT. Jadi makanya habis main ATK nyambungnya ke IT, sudah pasti. Karena kan tinta toner, tinta toner kan suplai, suplai ATK, tapi printernya kan IT jadi nyambung. Dari ATK, tinta toner terus printer, dari printer pertama kali jadi partner brother tahun 2012 kalau enggak salah.

Udah dari printer kita mulai main buka toko, punya toko, pelan-pelan kita main ke korporasi. Nah setelah korporasi banyak permintaan PC Laptop, nah mau enggak mau nyambung kita jualan PC Laptop, secara tidak langsung kita jadi main PC laptop, bergeser lagi, ATKnya karena kita lebih fokus ke IT, ATKnya enggak main karena terlalu ribet, sampai dengan hari ini kita main IT dan memang fokus kita 90 persen di pemerintah. Jadi kita udah pengalaman di pemerintah dari 2008.

Ada misi apalagi yang mau dicapai?

Selain IT sekarang pengembangan untuk ke software house, kalau kita lihat level-levelannya itu adalah pemain ATK, pemain tinta toner, pemain IT, PC Laptop habis itu naik ke pemain hardware, server, ke depan yang mau kita target adalah menjadi software house, jadi kita mau membikin software untuk mempermudah efisiensi perusahaan. Contoh dengan program human resources, kita lagi develop, terus kita ada program-program lain yang akan kita develop untuk mempermudah user dalam bisnisnya, jadi menjadi software house, di lain itu kita juga kan ingin pengembangan di dunia kuliner.

Nah kuliner itu juga berhubungan dengan software house dan otomatis orang bisa beli secara online, karena konsep kita perusahaan saya adalah menjadikan semuanya terkoneksi secara online. dengan toko-toko kita, dengan usaha-usaha kita. Meminimalisasi kerjaan secara manual.

Ada enggak kesulitan-kesulitannya?

Banyak, waktu pertama kali itu pernah ketipu temen, terus ketipu karyawan juga, karyawan enggak jujur. Itu pengalaman-pengalaman yang kita pelajari yang membuat kita lebih selektif, lebih hati-hati di usaha ke depannya. Karena enggak semua bisnis itu lancar, pasti ada suka dukanya, kita pernah salah masukin harga sehingga pekerjaannya rugi juga pernah.

Basuki dengan beberapa klipingan koran yang pernah mewawancarai dirinya

Menghadapi kesulitannya?

Solusinya kita tetep jalan, namanya pengusaha kita kan enggak boleh maklum. Karena kalau kita berhenti kan otomatis usahanya kan mandek. Kalau sekarang kita usaha terus, kegagalan pasti ada, tapi pasti terselesaikan dengan baik.

Di samping kesibukannya sebagai pengusaha, apa yang anda lakukan untuk mengisi sela-sela waktu yang kosong?

Ya saya kan hobinya membaca. Saya kalau dulu dalam waktu satu bulan satu dua buku pasti saya lahap. Tapi kalau enggak sibuk gini, paling sehari 30 menit saya baca buku. Karena kalau saya dari generasi kan generasi X, gnerasi X ini digitalnya setengah-setengah, otomatis jalan utama saya mendapat ilmu bukan dari kursus, tapi dari baca buku.

Saya baca buku saya dapat ilmunya dari baca buku. Karena kalau kita enggak dapet ilmu kan enggak mungkin, memang terkadang sudah mulai belajar ke digital. Meskipun jualan online tapi saya lebih seneng konservatif, namun sekarang dibiasakan online.

Dari semua buku, apa judul buku yang menjadi insirasi?

Buku 'Leadership Tiga Titik Nol,' penulisnya saya lupa.

Kutipan yang diingat?

Jadi pemimpin itu tidak dilahirkan karena bakat, tapi karena proses perjuangan. Jadi di sana kita diajarkan bagaiman jadi pemimpin, bukan karena warisan tapi karena memang kita dilatih yang intinya 99 persen adalah keringat dan 1 persen itu adalah lucky, jadi tetep 99 persen itu keringat.

(TYO)