Baroto Isman, Bangkrut Tak Menjadi Alasan Untuk Menyerah

Selasa, 09 Jan 2018 | 09:40:10 wib

Yulistyo Pratomo
penulis : Yulistyo Pratomo | yulistyo@ayooberita.com

 

Baroto Isman, Bangkrut Tak Menjadi Alasan Untuk Menyerah

Baroto Isman. (Ayooberita.com/Yulistyo Pratomo)


Menjadi seorang pengusaha tidak selalu berhadapan dengan kesuksesan, kegagalan dan keterpurukan juga merupakan santapan mereka selama menjalankan usaha. Bukan seorang entrepreneur namanya jika mudah menyerah, berusaha dan terus berusaha harus terus terpatri.

Itulah yang dialami Baroto Ario Isman, yang memang sudah bercita-cita menjadi seorang pengusaha sejak menyelesaikan masa sekolahnya. Karena impiannya itu dia dikirimkan ayahnya untuk menuntut ilmu di Amerika Serikat (AS), namun gelar sarjana justru didapatkannya di Inggris.

"Jadi kalau saya itu mau bisnis itu awalnya memang datang dari hati. Waktu itu ayah saya, setelah lulus SMA nanyain masuk ke mana, dunia apa? Saya bilang mau jadi pengusaha, ayah saya langsung meng-iyakan, berarti masuklah sekolah bisnis yang paling bagus," kenangnya saat berbincang dengan Ayooberita.com, pekan lalu.

Baroto berpandangan, menjadi seorang pengusaha berarti memiliki kebebasan waktu dibandingkan menjadi seorang karyawan di sebuah perusahaan. Dengan alasan itu, seusai pulang dari Inggris, dia bersama teman-temannya langsung mendirikan perusahaan bernama PT Satsena Nanggala Sakti.

Setelah melalui proses lobi yang panjang dan melelahkan, perusahaan yang dia dirikan mendapatkan kesempatan sebagai pemasok kebutuhan militer. PT satsena Naggala Sakti ditunjuk sebagai mitra Korps Marinir TNI Angkatan Laut.

Sayang, usaha ini tidak berlangsung lama. Ayahnya, Hayono Isman, berencana untuk maju kembali ke dunia politik dengan menjadi calon legislatif. Mereka pun menggelar rapat keluarga, yang intinya meminta Baroto untuk melepas perusahaannya tersebut.

"Tapi karena sudah bulat Papa mau masuk DPR lagi, saya jual perusahaannya. Padahal saat itu lagi bagus kondisinya tapi karena keputusan keluarga saya jadi hormati lah," kata pria kelahiran 24 Juli 1980 ini.

Setelah menjual perusahaannya, dia mencoba merambah ke bidang minyak dan gas dengan menjadi rekanan PT Pertamina sebagai pemasok gas. Perusahaan yang baru tersebut diberi nama PT Nusam Energy.

Di sinilah dia mulai merasakan persaingan bisnis yang begitu kental dan hasilnya pun tidak selalu sejalan dengan ilmu yang didapatkannya. Bukan untung tapi malah buntung, Baroto terpaksa menutup Nusam setelah dua tahun berdiri.

"Nah di sini saya belajar mulai bisnis, rupanya tidak selalu linear, kesuksesan yang telah lalu itu enggak selalu mengikuti kesuksesan setelahnya. Saya di bisnis oil and gas bener-bener gagal total, hampir bisa dibilang bangkrut malah," ungkap Baroto.

Kerugian yang harus ditanggungnya mencapai Rp 4-5 triliun. Kegagalan itu memberikannya pengalaman berharga, di mana dalam berbisnis tidak hanya bersaing secara bisnis, tetapi upaya pendekatan, lobi dan sebagainya.

Melanjutkan organisasi sang kakek

Gagal merambah ke bidang energi membuat dirinya benar-benar terpuruk. Sebagian besar aset yang dia miliki terpaksa dijual, hingga angka di buku rekeningnya benar-benar tak bernilai sama sekali.

Di tengah keterpurukan itu, dia membuat sebuah keputusan besar untuk memulai kehidupan berumah tangga. Hidup baru ini harus dijalaninya di tengah keterbatasan yang membuatnya harus berpikir keras mencari penghasilan, tetapi tetap menjadi seorang pengusaha.

Meski mendapatkan dukungan dari sang ayah, tapi tidak dengan ibunya, Poppy Puspitasari. Sang ibu justru memiliki pendapat berbeda. Dia meminta Baroto untuk bekerja dengan seseorang sebelum benar-benar mulai membuka usaha kembali. Namun usulan tersebut ditolaknya.

Untuk mengisi waktu sehari-harinya, dia memutuskan bergabung dengan organisasi bernama Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong atau disingkat Kosgoro. Berbeda dengan organisasi yang sama di bawah Partai Golkar, Kosgoro yang diikutinya merupakan lembaga yang independen, lepas dari keterlibatan partai. Organisasi itu dibangun dan dibesarkan oleh kakeknya sendiri, Mas Isman.

Pengalamannya bergabung dengan organisasi selama berkuliah di Inggris sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia di London menjadikannya ingin melanjutkan pengalaman itu. Alhasil dia pun bergabung dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), sebelum memutuskan ikut mengurus Kosgoro. Di organisasi itu dia berhasil mendapatkan pengalaman tambahan, pertemanan dan rekan bisnis baru.

"Orang bertanya kenapa enggak di Kosgoro, karena kan bapak Kosgoro, kakek Kosgoro, itu juga sebenarnya cara saya untuk melatih diri di luar zona nyaman. Jadi saya mengenal karakter orang, mengenal relasi dengan orang. Sebenarnya belajar, aktif di organisasi yang tidak ada hubungannya dengan keluarga," aku Baroto.

Setelah beberapa kali terpilih menjadi pengurus Hipmi Jaya, dia memutuskan mengundurkan diri dan fokus terhadap perkembangan perusahaannya. Saat menganggur, dia mulai terpikir untuk meneruskan organisasi yang dibagung oleh kakek dan ayahnya, Kosgoro. Sejak itu ia mulai aktif mengajak rekan-rekannya untuk bergabung.

"Ada yang nangkep itu jadi ajang, dia siapa tahu kalau masuk Golkar, bisa jadi itu kan," beber Baroto.

Melirik sektor properti

Dorongan sang istri untuk mencari penghasilan terus terngiang di telinganya. Namun Baroto tetap kukuh untuk tetap menjadi seorang pengusaha dan tidak bekerja dengan orang lain. Meski kengototan ini berdampak kepada keuangan rumah tangganya.

"Memang dari awal pengennya jiwanya jadi pengusaha tidak terikat, nah tapi dengan itu harusnya udah bisa menerima konsekuensi ada saatnya kita plong kosong, enggak ada di rekening mungkin bisa dicek itu cuma tiga angka doang. Saya ngerasain itu," ujar dia.

Kebakaran yang menimpa kantor Kosgoro membuatnya terpikir untuk merambah bidang baru, yakni properti. Namun, sebelum benar-benar terjun, dia mempelajari terlebih dahulu potensinya, termasuk menelusuri aset-aset milik keluarga yang tersebar di beberapa lokasi.

"Saya pelajari dulu, bagaimana posisi keluarga saya dulu. Saya coba untuk menarik ke belakang dulu, sejarah keluarga. Jadi kakek saya ini dari awal sudah banyak aset lah, di bidang properti, termasuk ada hotel di Surabaya, gedung wisma kosgoro ini dan akhirnya minat saya mulai itu waktu wisma kosgoro terbakar di tahun 2015, eh tahun 2014 kalo enggak salah," terangnya.

Merasa nasih ada peluang besar yang terbuka lebar, dia mulai mencoba mengajak tiga kenalannya untuk bergabung. Namun mereka meminta dicarikan tanah, sayangnya ketika lahan sudah ditemukan, satu per satu temannya itu malah memilih mundur.

Namun Baroto tidak menyerah begitu saja, dia meminta bantuan ayahnya untuk mencari rekanan lain, sisanya dia jalankan sendiri. Tidak hanya itu, pria yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Generasi Muda Kosgoro ini mengajukan aset milik keluarganya untuk membangun kompleks perumahan.

"Setelah saya masuk ke dunia ini, ya memang keuntungannya enggak besar, tapi setelah itu bisa menopang hidup saya dengan istri saya ini," lanjutnya.

Nah, untuk melalui itu semua, dia berpegangan terhadap filosofi perang milik Sun Tzu. Fokus, dan pantang menyerah. (TYO)