Waspada, Stres Bisa Berujung pada Penyakit Autoimun

Senin, 12 Mar 2018 | 13:15:11 wib

Endy Purwanto
penulis : Endy Purwanto | endy@ayooberita.com

 

  Waspada, Stres Bisa Berujung pada Penyakit Autoimun

Stress (ilustrasi)


Bukan hanya pola hidup dan makanan, stres juga bisa menyebabkan penyakit autoimun. Sebenarnya tidak terbatas pada penyakit autoimun saja, stres juga bisa menyebabkan berbagai penyakit lain.

Penyakit autoimun itu terjadi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang mengalami gangguan, sehingga menyerang jaringan tubuh itu sendiri. Seharusnya sistem imun hanya menyerang organisme atau zat-zat asing yang membahayakan tubuh.

Penyakit ini dapat memengaruhi hampir semua bagian tubuh termasuk otak, saraf, otot, kulit, sendi, mata, jantung, paru-paru, ginjal, saluran pencernaan, kelenjar, dan pembuluh darah. Ada sebanyak 80 jenis penyakit autoimun.

"Sebetulnya hampir semua penyakit itu relevan dengan stres. Bahkan, hampir semua penyakit memiliki muatan stres. "Entah itu diawali dengan stres lalu terdiagnosa lalu tambah stres. Apapun penyakitnya tidak harus autoimun, stres memegang peranan," ungkap Susan Hartono, praktisi self healing dari Self Awareness Network dalam peluncuran bukunya Autoimmune and Me, belum lama ini.

Menurutnya, 80 persen penyakit di dunia disebabkan oleh stres. Agar bisa hidup sehat, seseorang harus memiliki komitmen dan bisa mengenal dirinya masing-masing. Selain itu, harus tahu juga pemicu yang menyebabkan mereka menjadi stres.

"Apapun metode tekniknya, orang harus belajar manajemen stres," kata Susan.

Dicontohkan salah satu pernapasan ringan, yang bisa dilakukan ketika sedang stres. "Nafas orang seperti saat gugup itu kan chaotic, cepat. Untuk membalikkan keadaan itu, harus bertanya, nafas orang yang kalem dan tenang itu seperti apa," jelas perempuan yang kerap memberikan seminar dan terapi itu.

Menurut Susan, orang yang tenang cenderung bernapas lebih lambat dan stabil. "Contohnya, hirup empat keluar enam, hirup empat keluar enam. Itu pakai hitungan bisa," papar Susan. Menurutnya, metode semacam itu tidak harus dilakukan saat stres.

"Kita harus tahu tentang diri masing-masing. Misalnya kita gampang cemas, sebelum jadi panic attack, mungkin menyendiri dulu, latihan pernafasan, baru kembali untuk menghadapi orang atau pekerjaan tersebut," tutup Susan. (LIPUTAN6/END)

Tags:

Kesehatan