Kadin Dorong Kemitraan Closed Loop Sektor Pangan

Kamis, 08 Mar 2018 | 15:19:11 wib

Endy Purwanto
penulis : Endy Purwanto | endy@ayooberita.com

 

  Kadin Dorong Kemitraan Closed Loop Sektor Pangan

Wapres Jusuf Kalla saat membuka Food Security Summit



Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong implementasi pola kemitraan closed loop dalam pembangunan dan pengembangan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan nasional. Dalam pola kemitraan closed loop, petani bukan saja akan terhubung dengan perusahaan, bank, dan koperasi tetapi juga industri dan ritel. Harapannya tingkat kesejahteraan petani di Indonesia membaik.

"Kami berupaya ikut meningkatkan kesejahteraan petani melalui pengembangan pola kemitraan antara perusahaan dengan para petani. Saat ini, setidaknya ada 430 ribu petani yang terlibat dalam pola kemitraan. Kami targetkan melalui pola kemitraan ini jumlah petani yang ikut bisa mencapai 1 juta," lontar Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P Roeslani saat pembukaan  Food Security Summit (JFSS) Ke- 4 di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (8/3/2018).

Dilanjutkan, pertanian dapat menjadi leading sector untuk memperkecil kesenjangan ekonomi dengan memperhatikan kesejahteraan petani yang menjadi penentu dalam ketahanan pangan. Pertanian juga memiliki kontribusi serapan tenaga kerja yang paling tinggi yakni sekitar 32%. Ada sekitar  50 juta orang yang bekerja di sektor tersebut.

Namun, pertumbuhan sektor pertanian justru hanya 3-4%. Sementara kontribusinya pada PDB juga rendah sekitar 13-14%. "Untuk itu, melalui gelaran JFSS, pihaknya ingin membangun kesadaran agar semua pemangku kepentingan prioritas lebih pada sektor pertanian," jelasnya.

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyampaikan pentingnya kemitraan antara pengusaha dan petani guna meningkatkan produktifitas di pertanian. Pengusaha bisa bantu petani dengan modal guna lakukan pemasaran terhadap produk pertanian di Indonesia. "Jadi Bagaimana para pengusaha bermitra dengan petani, meningkatkan produktivitas dengan teknologi, modal dan pemasaran yang baik," jelas JK dalam sambutan pembukaan JFSS.

Dikatakan, Pemerintah sendiri berusaha untuk meningkatkan daya beli para petani. Salah satunya dengan pembangunan tol laut, yang dapat menurunkan ongkos logistik di Tanah Air. Fokus Pemerataan Ekonomi Pertanian, Kadin akan Gelar JFSS

"Indonesia negara kepulauan, ongkos logistik pasti lebih mahal. Karena itu sistem perdagangan logistik kita diperbaiki, ada tol laut misalnya. Kalau tidak ada sistem logistik yang baik maka daya beli petani tidak seimbang, nilai tukar petani tidak seimbang. Harga jagung di daerah murah, tapi membeli sabun mahal," tandasnya.

Menurutnya, ketahanan pangan merupakan suatu yang krusial untuk Indonesia. Sebab, kekurangan pangan tidak bisa digantikan dengan apapun. "Kita boleh kekurangan baju, tapi kekurangan pangan itu tidak bisa tergantikan. Tidak bisa makanan kemarin kita makan lagi hari ini. Kita tidak bisa tanpa makanan. Karena itu pentingnya pangan itu untuk kita semua, sehingga tentu penghormatan kita terhadap petani adalah sesuatu yang wajar," tandasnya.

JFFS keempat ini mengusung tema Pemerataan Ekonomi Sektor Pertanian, Peternakan dan Perikanan Melalui Kebijakan dan Kemitraan. Wakil Ketua Umum KADIN bidang Agribisnis, Pangan dan Kehutanan, Franky O Widjaja mengatakan, JFFS tahun ini memiliki sejumlah fokus. Di antaranya adalah akses petani terhadap lahan pertanian. "Petani diharapkan memiliki akses legal terhadap lahan, sesuai dengan skala ekonomi mereka," ucap Franky.

Menurut Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Pengajan Makanan dan Industri Peternakan, Juan Permata Adoe, salah satu jalan untuk membuka akses bagi para petani, peternak, dan nelayan tersebut adalah dengan dukungan pendanaan. Pemodalan tersebut membutuhkan hadirnya lembaga untuk mendampingi pengelolaan produksi dan distribusi hasil pangan.

Salah satu skema kemitraan adalah closed-loop atau rantai kemitraan terintegrasi yang menghubungkan petani, koperasi, perusahaan selaku pembeli atau penyerap komoditas pangan, serta perbankan sekaligus penjamin pendanaan. "Skema ini sebelumnya banyak dipraktikkan pada sektor perkebunan sawit, di mana para pekebun menggatap lahan bersertifikat dan legal yang memungkinkan mereka mengagunkannya untuk menjaring kredit dengan bunga terjangkau," ucap Juan.

Dengan ketersedian pendanaan, para pekebun akan mampu membeli serta menggunakan bibit unggul bersertifikat. Sehingga, produktivitas turut naik. Mereka juga mendapatkan pendampinhan untuk menjalankan praktik agribisnis terbaik.

Menurut Juan, acara yang digelar Kadin sejak pukul 10.00 WIB ini nantinya akan dihadiri sekitar 1000 peserta. Ribuan peserta itu tergabung dalam Food and Agriculture Organization, International Fund for Agricultural Development, perusahaan nasional dan multinasional, peneliti atau kalangan akademik, serta petani dan pegiat koperasi. (RLS/END)

 

 

 

Tags:

Kadin