​Valentino Ivan, Rahasia Membuka 15 Cabang Dalam 2 Tahun

Jumat, 02 Feb 2018 | 15:19:29 wib

Yulistyo Pratomo
penulis : Yulistyo Pratomo | yulistyo@ayooberita.com

 

​Valentino Ivan, Rahasia Membuka 15 Cabang Dalam 2 Tahun

Valentino Ivan. (handout/dok. pribadi)


Sadar bahwa mencari kerja ternyata tidak mudah membuat Valentino Ivan berpikir untuk membangun bisnisnya sendiri. Sembari kuliah, dia sudah membuka kursus ilmu komputer bersama sejumlah teman-temannya, setelah itu baru terjun ke dunia kuliner.

Pertama kali merambah dunia kuliner ternyata tidak semudah membalikkan tangan. Dia dan temannya hanya memiliki modal, namun tidak memiliki keahlian memasak. Namun mereka tetap ngotot membuka restoran kecil-kecilan di dekat kampusnya sendiri.

Sayang, bisnis kuliner pertamanya tidak berjalan mulus. Restoran masakan China itupun harus tutup karena kehabisan modal, serta gagal mengendalikan manajemen yang baik.

Buah kegagalan itu menjadi pelajaran amat berharga bagi Ivan. Alhasil, usaha cafe yang dia beri nama What's Up tak cuma berhasil menarik perhatian anak-anak muda, tapi juga sukses membuka 15 cabang ke sejumlah lokasi di Medan, Pontianak dan Manado.

Apa sih rahasianya? Simak wawancara Ayooberita.com dengan Ivan, beberapa waktu lalu:

Boleh diceritakan bagaimana sih awal berbisnis kuliner dan mengapa tertarik terjun ke dunia itu?

Jadi sebenarnya awalnya enggak kuliner dulu. Kita awalnya tuh bisnis karena lulusan IT, bisnisnya dulu bikin tempat les komputer dulu. Tetapi enggak lama lah, 2004, pertama kali buka les komputer dulu. Cuma seiring berjalan ya memang dasarnya kita suka makanan, cobain sana sini, cobain ini enak nih, coba waktu itu 2006 bikin kuliner kecil-kecilan deket kampus binus kita bikin chinese food, cuma modal nekat masak enggak bisa, cari orang yang bisa masak dan bikin management belum bisa waktu itu kan, baru lulus ya udah akhirnya tutup, rugi total lah.

Udah cari2 bisnis lain baru, sekarang komitmen besar-besaran di What's Up ini, What's Up ini 2015. Karena memang kalo dibilang kenapa tertarik di bisnis kuliner kita lihat prospek ya, kl prospek di bisnis kuliner itu positif, karena pasti semua orang suka makan. Terus dalam kondisi ekonomi kayak sekarang, justru bisnis kuliner itu makin menggeliat, makin meningkat. Terpengaruh kayak sekarang macem-macem pakai online semua sekarang makanan justru dipesen pakai online. Jadi makin dapet lagi tambahan lagi, selain orang dateng online juga aktif. Semacam itulah kenapa kita tertarik dari situ dan uangnya cash (tunai).

Dari perencanaan pasti ada kesulitannya, apa aja?

Jadi pertama kali kan kita salah satu pioneer yang bikin tempat hangout kekinian, pertama kali kita buka Mei 2015 di Depok itu kita kesulitan untuk cari contoh kira-kira apa sih yang diinginkan anak muda zaman sekarang, ya udah akhirnya kita berkreasi sendiri, cari apa nih yang bisa kita bikin, kita buat supaya anak muda ini nyaman. Waktu itu tema yang kita ambil bisa foto di manapun, jadi kita bikin spot-spot foto di setiap tempat. Kan dulu lagi boomingnya selfie, wefie, jadi spot-spotnya. Akhirnya setiap dinding kita gambar, kita mural di dinding yang kita mural itu jadi spotnya foto anak muda. Jadi konsepnya gitu.

Jadi promonya agar diterima pelanggan gimana?

Jadi karena kita base-nya anak muda, jadi lokasi itu penting sekali. Kita cari lokasi di Depok, itu deket dengan Gunadharma dan UI di Margondanya, jadi yang pertama itu kita cari komunitas anak-anak muda di Depok banyakan kan mahasiswa tuh, kita ajak mereka untuk cobain makanan kita dulu, selain makanan mudah dijangkau harganya mereka juga kan lihat tempatnya keren, awal-awal kita kasih free (gratis) dulu, kita kasih cobain gratis dulu pertama kali mereka, pokoknya banyak komunitas, awalnya kita kasih free-free, terus waktu pembukaan pertama kali gratis 1.000 mangkok indomie.

Dari kita kasih gratis itu orang kan jadi nyobain ya, karena kelebihan kita banyak spot foto jadi selalu diulas terus tuh difoto sama temen-temennya, entar temennya ingin foto di tempat foto itu juga, dateng, kembali lagi, balik lagi, dateng lagi. Perkenalan awalnya gitu. Ya udah berputar orang-orang lama-lama mengenal What's Up ini.

Bagaimana cara anda menghadapi beratnya persaingan bisnis kuliner?

Sebenarnya dasar pertama kali dulu ambil menunya yang sudah biasa dimakan sama kalangan anak muda, mahasiswa. Seperti misalnya Indomie ya, terus nasi-nasi kekinian, nasi teriyaki, nasi blackpepper sama snack-snack lah kayak pisang terus menu-menunya sudah familiar, itu yang pertama. Jadi mereka memang menu-menu untuk orang nongkrong.

Kedua, kita kasih fasilitas yang mungkin enggak bisa didapetin di kaki lima atau mungkin yang di model-model retail mirip What's Up kayak indomie juga tapi udah lama, nah kita bikin fasilitas kasih alat musik, panggung live music, nah panggung itu tuh banyak diisi oleh komunitas-komunitas mahasiswa itu, jadi mereka punya karya, mereka bisa ngeband, kita kasih waktu dan mereka seneng banget untuk eksplore, wah kapan lagi bisa manggung diperhatiin banyak orang, gitu kan. Terus Stand Up Commedy, waktu itu sering sekali tuh orang di Depok Stand Up Commedy.

Jadi mereka namanya open mic, mereka dapet panggung mereka seneng banget, terus ada sulap juga, komunitas breakdance, komunitas yang memang butuh berkembang dengan mereka berkarya, nah dengan gitu kita membuat perbedaan dibandingin yang lain, kalopun harga kita sih enggak beda jauh sama kaki lima atau yang sekeliling, memang harga kita lebih tinggi karena banyak service dan lain-lain, cuma tetap mereka worthed karena mereka lihat value for money, kita dateng kita ngerasa wah pantes dateng ke sini gue bayar lebih mahal, makan indomie ada alat musiknya.

Terus kita sediakan game-game, game-game yang kekinian, ada game crocodile, ada game-game fungky sampai game-game congklak juga ada, Ludo, Halma ada. Itu mungkin yang bikin kita tetap bertahan dari persaingan.

Lalu apa yang membuat anda lebih tertarik berbisnis dibandingkan bekerja sama orang?

Kalau pertama sih visi ya, kita punya visi, saya percaya kalau kita bikin usaha, itu kita sebenarnya memberkati banyak orang, kita menolong orang lah, karena kita jadi pekerja lagi, pekerja lagi kita bergantung sama orang lain, jadi kalau kita punya suatu usaha apalagi usaha itu berkembang apalagi kita punya 15 cabang kurang lebih 30 lah orangnya, sudah 450 orang, sudah banyak sekali lah orang yang kerja sama kita.

Itu yang pertama saya sudah bikin lapangan pekerjaan, kedua kita nolong orang lain dengan kalau di What's Up itu membuat orang lain jadi happy (bangga) dengan memberikan makanan terbaik kita bikin anak muda yang tadinya punya karya tapi enggak diandalkan atau enggak dianggap menjadi punya karya, itu alasan utama berbisnis membantu orang lain, dan dari situ seneng aja sih, kalo kita punya suatu menu yang saya bikin terus saya pasarkan ke orang lain terus orang suka, apalagi terus kita bikin brand What's Up terus orang seneng dengan brand What's Up, itu kayaknya sudah jadi kebanggaan sendiri yang enggak bisa dibayar pakai apapun.

Kesulitannya apa waktu membangun What's Up?

Jadi kalo kesulitan pasti ada, pertama kali kita memang dana kesulitan, tapi kalo kita memang punya niat, awal bisa cari cara lah. Dulu pertama kali saya buka toko komputer itu saya pinjem dari orang-orang terdekat, dari pertama pasti kita pinjem dari orangtua, ajak joint temen, waktu itu kita bertiga joint. Itu waktu awal-awal buka usaha itu banyakan minusnya daripada profitnya, jadi tempat lesnya belum laku dulu, belum bisa diandelin sama orang lain, tapi ya karena kita dulunya aktif, punya banyak kenalan, network, ya udah kiya mulai promosiin sama temen-temen, kalo ada adik kelas yang kesulitan belajar komputer bisa les di tempat kita, mulai dah tuh waktu angkatan-angkatan baru kelas mulai terisi, memang awal-awal ya kita harus irit dulu, uang udah investasi banyak tapi belum dapet apa2, itu dulu.

Tapi kalau bisa kasih masukan yang penting itu mindset-nya. Cara berfikirnya positif aja, kalau hari ini belum laku mungkin besok akan laku, kedua mental, mental entrepreneur itu beda sama orang yang saya maunya cari kerja, cari aman. Kl entrepreneur enggak aman, namanya dagang kan bisa hari ini jualan besok bisa enggak jualan, yang penting kita punya mental aja pengaturan diri yang bener.

Filosofi yang dipegang Ivan selama menjadi pengusaha itu apa?

Kenal sama kakak kelas, cerita-cerita pengalaman waktu belum lulus tuh, wah sekarang cari kerja susah, cari kerja udah kuliah dengan nilai tinggi itu masih belum mendapat sesuai yang diharapkan, sejak itu saya harus tentukan nasib sendiri, saya enggak mau ke depannya wah udah sekolah tinggi-tinggi tetapi enggak dihargai, lebih baik kita cari sesuatu yang bisa kreatif, kita cari sesuatu yang bisa memberikan banyak lapangan pekerjaan.

Kalau menjalankan bisnis filosofinya simpel sih, kita belajar bisa dari mana aja, kapan aja sama siapa aja. Kadang memang orang pikirannya kalau udah punya bisnis hebat, kalau udah punya bisnis besar gitukan ah udah malu bertanya pada orang lain, kalau saya enggak, saya selalu belajar sama siapa aja. Bahkan saya bisa belajar sama karyawan saya, saya bisa belajar sama partner saya, saya bisa belajar mungkin sama orangtua saya, kalau sekarang ini kan bisnis-bisnis zaman sekarangkan, anak-anak muda di bawah saya, kids zaman now jauh di bawah saya beda 10 tahun saya harus belajar sama yang anak muda. Kalau orang kan, ah baru lulus belum bisa apa-apa, tapi kalau saya belajar di mana saja, kapan saja, sama siapa saja.

Apa yang buat anda yakin bisa bangun cabang baru, meski banyak yang menyangsikan kalau bisnis berkonsep anak muda tidak akan bertahan lama?

Kalau saya sih yakinnya gini, karena yang sudah berjalan itu antusiasnya luar biasa, terus kita juga kalapun kita mungkin banyak orang yang bilang trend, kalau kita percaya kalau kita kembangkan orang lain, saya percaya kalau kita punya mimpi, kalau orang lain juga mengikuti mimpi itu pasti itu akan bertahan, karena kita di sini tujuannya adalah anak-anak muda sekitar sini, sekitar area What's Up juga menjadi potensi, menjadi sukses, menjadi maju mereka enggak akan lupa sama What's Up, mereka akan selalu base campnya di What's Up, seperti kita buka di Pontianak, Manado, itu antusias sekali, kita juga sampai heran, sampai kaget sih. Itu kita sediakan di sana sampai 300 kursi, itu yang antre-antre sampai 600 orang, yang masuk memang waktu itu lagi ada event, waktu event grand opening feelnya What's Up yang terkenal di Jakarta itu seperti apa sih dan sampai sekarang heboh di sana, dari kita buka sampai tutup selalu penuh, nah itu membuktikan kita antusias mulai bikin untuk seluruh Indonesia. (TYO)